Alzheimer karena kurang tidur di usia muda?

Latar Belakang

Baru dalam dekade terakhir sains mulai mempelajari pentingnya tidur untuk kesehatan sistem saraf pusat (SSP). Bentuk demensia yang paling umum - penyakit Alzheimer - dikaitkan dengan gangguan tidur seperti berkurangnya durasi tidur atau penurunan kualitas tidur.

Pada saat yang sama, penelitian telah menunjukkan bahwa kurang tidur pada orang dewasa menyebabkan peningkatan berbagai bentuk beta amiloid dan protein tau dalam cairan serebrospinal. Pada orang dengan apnea tidur obstruktif, peningkatan kadar beta amiloid dan protein tau terfosforilasi dapat diukur dalam plasma darah.

Fungsi tereduksi dari sistem glyphatic diasumsikan sebagai mekanisme yang mendasari. Bentuk sistem limfatik ini, yang hanya terjadi di SSP dan mengalir ke cairan, tampaknya terutama aktif pada tikus selama tidur. Selama tidur, pembersihan metabolit, seperti beta amiloid, dari parenkim otak meningkat. Selain berkurangnya klirens produk metabolik saat tidak cukup tidur, jumlah metabolit yang terakumulasi meningkat saat pasien terjaga karena aktivitas neuron yang meningkat.

Penetapan tujuan

Sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Dr. Christian Benedict dari Institute of Neuroscience di Uppsala University (Swedia) menyelidiki apakah kurang tidur akut mempengaruhi tingkat biomarker terkait Alzheimer pada dewasa muda yang dapat diukur dalam plasma darah [1].

metodologi

Dalam studi tersebut, 15 pria muda (usia 22,3 ± 0,5 tahun) diperiksa dalam dua fase studi standar yaitu 2 hari dan malam di laboratorium tidur. Pada penelitian tahap pertama subjek sudah bisa tidur seperti biasa, pada penelitian tahap kedua peserta tidak boleh tidur pada malam kedua.

Kadar protein tau plasma, amiloid beta 40 dan 42, NfL (rantai ringan neurofilamen) dan GFAP (protein serat glial asam) diukur pada sore dan pagi hari setelah setiap intervensi.

Hasil

Konsentrasi protein tau setelah kurang tidur (+ 17,2%) dibandingkan dengan tidur normal (+ 1,8%) meningkat (p = 0,035). Tidak ada perubahan antara tidur dan kurang tidur untuk amiloid beta 40 dan 42, NfL dan GFAP.

Kesimpulan

Hasil studi menunjukkan peningkatan konsentrasi protein tau setelah malam tanpa tidur pada orang dewasa muda. Dengan demikian, data tersebut memberikan bukti bahwa kurang tidur berdampak buruk pada kesehatan otak di usia muda.

Para ilmuwan menekankan bahwa hasil harus diperiksa dalam kelompok yang lebih besar, juga berkaitan dengan signifikansinya untuk jangka panjang kurang tidur atau gangguan dalam ritme sirkadian, misalnya pada pekerja shift. Para peneliti berharap dapat menggunakan data yang lebih banyak untuk menilai apakah ritme tidur yang sehat harus dipromosikan pada usia muda untuk mengurangi risiko penyakit Alzheimer.

!-- GDPR -->